Penyuluhan dan Edukasi Anti Perundungan terhadap Anak di SDN 249 Minangae, Kecamatan Sajoanging, Kabupaten Wajo
Kata Kunci:
anti perundungan, sekolah dasar, edukasi, empati, PKM, bullyingAbstrak
Perundungan pada anak sekolah dasar merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi rasa aman, kenyamanan belajar, dan hubungan sosial antarsiswa. Rendahnya pemahaman anak dalam membedakan perilaku bercanda dengan tindakan yang menyakiti menjadi salah satu tantangan dalam upaya pencegahan perundungan di lingkungan sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, empati, dan kemampuan siswa dalam mengenali serta merespons perilaku perundungan secara tepat. Kegiatan dilaksanakan di SDN 249 Minangae, Kecamatan Sajoanging, Kabupaten Wajo, dengan melibatkan 30 siswa kelas III, IV, V, dan VI. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif-partisipatif Kenali–Rasakan–Bertindak (KRB) yang dikembangkan sesuai karakteristik siswa sekolah dasar. Kegiatan dilakukan melalui penyampaian cerita dan ilustrasi, tanya jawab, permainan empati, studi situasi, role play, serta deklarasi anti-perundungan. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test serta observasi terhadap partisipasi siswa selama kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pemahaman siswa dari 56,3% pada pre-test menjadi 91,3% pada post-test, atau meningkat sebesar 35,0 poin persentase. Peningkatan terutama terlihat pada kemampuan mengenali perundungan sosial, memahami dampak terhadap korban, serta menentukan tindakan ketika menyaksikan perundungan. Aktivitas permainan empati dan role play juga menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi anti-perundungan yang interaktif, kontekstual, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak dapat menjadi pendekatan preventif yang efektif untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian siswa terhadap perundungan. Keberlanjutan program melalui pembiasaan dan penguatan budaya sekolah yang ramah anak diperlukan agar pemahaman tersebut dapat berkembang menjadi perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi
Firman, Mansur S, Mega Jasa, & Ahmad Nur Furqan. (2024). Penyuluhan Dampak Perundungan (Bullying) di Lingkungan Pendidikan pada SMPN 1 Sabbangparu. Compile Journal of Society Service, 2(1), 47–52. Diambil dari https://jurnal.lamaddukelleng.ac.id/index.php/compile/article/view/109
Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). PISA 2022 results (Volume I and II): Country notes—Indonesia. OECD Publishing. Diakses dari https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/indonesia_c2e1ae0e-en.html?
Saptono, B. (2022). How does bullying happen in elementary school? Jurnal Prima Edukasia, 10(2), 187–193. https://doi.org/10.21831/jpe.v10i2.50364
UNICEF Indonesia. (2020). Evaluation of the Roots Indonesia: Peer violence and bullying prevention pilot in South Sulawesi and Central Java. UNICEF Indonesia. Evaluation of the Roots Indonesia. Diakses dari https://www.unicef.org/indonesia/reports/evaluation-roots-indonesia?
UNICEF Indonesia. (2020). Bullying in Indonesia. UNICEF Indonesia. Diakses dari https://www.unicef.org/indonesia/media/5606/file/Bullying.in.Indonesia.pdf?
UNICEF Indonesia. (2024). Child protection. UNICEF Indonesia. Perlindungan Anak – UNICEF Indonesia diakses dari https://www.unicef.org/indonesia/id/child-protection?
World Health Organization. (2015). Global School-based Student Health Survey: Indonesia 2015. WHO. Diakses dari https://extranet.who.int/ncdsmicrodata/index.php/catalog/489/variable/F2/V73?name=QN20


